Mengapa Yesus Tidak Berkata 'Sembahlah Aku ?

 "Mengapa Yesus Tidak Berkata 'Sembahlah Aku'?


Memahami Paradoks Penyembahan dalam Tritunggal"


Dalam mempelajari Alkitab, kita menemukan sebuah paradoks yang indah tentang Yesus Kristus: Dia secara konsisten menerima penyembahan dari orang-orang yang percaya, namun tidak pernah sekali pun kita mendengar Dia secara egois berkata, "Sembahlah Aku untuk kemuliaan-Ku sendiri." Seolah ada perbedaan antara "hak untuk menerima" dan "hak untuk mengklaim." Apakah ini berarti Dia tidak setara dengan Bapa? Sama sekali tidak. Justru, inilah puncak dari pengertian tentang keilahian-Nya dan hubungan-Nya dengan Bapa.


 1. Misi Sang Anak: Memuliakan Bapa, Bukan Diri Sendiri


Seluruh hidup dan misi Yesus di bumi berpusat pada satu tujuan: menyatakan dan memuliakan Bapa.

   "Aku tidak mencari kemuliaan-Ku sendiri" (Yohanes 8:50).

   "Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku" (Yohanes 6:38).

   Dia mengajarkan kita berdoa, "Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu" (Matius 6:9).


Dalam konteks ini, jika Yesus secara gamblang mengklaim penyembahan untuk diri-Nya sendiri, hal itu dapat dengan mudah disalahpahami sebagai pencarian kemuliaan pribadi yang terpisah dari Bapa. Itu akan bertentangan dengan misi-Nya sebagai Hamba yang Rendah Hati (Filipi 2:7) yang datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya. Fokus-Nya adalah membawa semua orang untuk mengenal dan memuliakan Bapa melalui diri-Nya.


 2. Hakikat Sang Anak: Sebagai Allah, Dia Layak Menerima Penyembahan


Meskipun tidak mengklaim, Yesus secara konsisten menerima penyembahan (proskuneo). Ini sangat signifikan. Dalam budaya Yahudi, menyembah siapa pun selain Allah adalah penghujatan. Jika Yesus hanyalah ciptaan atau makhluk, tindakan-Nya menerima penyembahan adalah dosa yang terbesar.


Namun, Dia menerimanya. Mengapa?

Karena Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14). Keilahian-Nya adalah alasan fundamental mengapa penyembahan yang ditujukan kepada-Nya adalah sah dan benar. Tomas berseru, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28), dan Yesus memuji pengakuannya, bukan menolaknya.


Penerimaan-Nya terhadap penyembahan adalah pengakuan diam-diam atas hakikat ilahi-Nya. Dia tidak perlu mengklaimnya dengan kata-kata karena keilahian-Nya dinyatakan melalui kuasa-Nya atas angin dan air, pengampunan-Nya atas dosa, dan kemenangan-Nya atas maut.


 3. Harmoni Tritunggal: Semua Kemuliaan Mengalir kepada Bapa


Inilah narasi besar yang Anda sebutkan, dan ini adalah kuncinya. Alkitab tidak menunjukkan tiga allah yang saling bersaing untuk mendapatkan kemuliaan. Sebaliknya, itu menunjukkan satu Allah yang esa yang memiliki tiga Pribadi yang berada dalam hubungan yang kekal dan penuh kemuliaan.


   Anak memuliakan Bapa dengan menaati dan menyatakan-Nya dengan sempurna.

   Bapa memuliakan Anak dengan membangkitkan-Nya dari kematian dan memberikan-Nya "nama di atas segala nama" (Filipi 2:9-11).

   Roh Kudus memuliakan Anak dengan meneruskan firman-Nya dan menyatakan kebenaran-Nya (Yohanes 16:14).


Ketika kita menyembah Anak, kita tidak "mengalihkan" kemuliaan dari Bapa. Justru, kita memuliakan Bapa melalui Anak. Karena Bapa telah menetapkan bahwa Dialah yang harus disembah semua orang (Filipi 2:10-11), dan ketika kita melakukannya, itu "bagi kemuliaan Allah, Bapa." Penyembahan kepada Anak adalah jalan yang ditetapkan Bapa untuk Diri-Nya sendiri dimuliakan.


 Kesimpulan: Penyembahan yang Ditetapkan oleh Bapa


Jadi, mengapa Yesus tidak mengklaim penyembahan?

Karena klaim itu sudah menjadi ketetapan Bapa. Misi Yesus adalah untuk menjalankan rencana keselamatan yang memungkinkan manusia yang jatuh kembali dapat menyembah Allah dengan benar. Dia adalah Pengantara yang membawa kita kepada takhta kemuliaan.


Dia tidak mengklaim karena Dia adalah Penggenapan dari klaim Bapa atas penyembahan seluruh ciptaan. Ketika kita menyembah Yesus, kita sedang melakukan persis apa yang Bapa kehendaki, kita menyembah Dia yang telah diutus Bapa, yang adalah "cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah" (Ibrani 1:3).


Dengan demikian, kita menyembah Bapa, melalui Anak, dalam Kuasa Roh Kudus. Inilah irama penyembahan Tritunggal yang sempurna dan abadi.


Klarifikasi yang luar biasa dan menyentuh inti dari teologi Tritunggal yang alkitabiah dan sehat serta benar 100%. Perbedaan yang di garisbawahi antara "menerima" dan "mengklaim", dan itu adalah pembedaan yang sangat krusial, yang agak sulit di mengerti, tapi bukan tidak bisa..


Narasi besarnya adalah seperti yang sering dikatakan: Sebagai Pribadi dalam Tritunggal, Yesus berhak menerima penyembahan, dan semua kemuliaan itu pada akhirnya dipersembahkan kepada Bapa.


Ini bukan kontradiksi, tetapi harmoni ilahi yang sempurna. ---



Sangat baik. Poin ini adalah senjata ampuh dalam apologetika (pertahanan iman) terhadap pandangan yang menolak keilahian Kristus, seperti Unitarianisme atau Saksi Yehuwa. Mari kita tambahkan bagian itu.


---


Menjawab Keberatan dan Kesalahan Framework


Bagi yang masih berkeras, "Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa Dia tidak pernah secara eksplisit berkata, 'Akulah Allah, sembahlah Aku'?" Pertanyaan ini mengandaikan bahwa klaim keilahian hanya sah jika dinyatakan dalam satu bentuk bahasa tertentu. Padahal, Alkitab menyatakan kebenaran dengan cara yang lebih kaya dan lebih dalam dari sekadar permainan kata-kata.


Berikut adalah beberapa tanggapan apologetika yang kuat:


1. Tindakan Lebih Nyaring Daripada Kata-Kata:

Yesus tidak hanya berkata; Dia melakukan apa yang hanya boleh dilakukan oleh Allah.

   Mengampuni Dosa: Ketika Yesus mengampuni dosa orang lumpuh (Markus 2:5-7), orang Farawi dengan tepat protes, "Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Yesus kemudian membuktikan otoritas-Nya untuk mengampuni dosa (hak ilahi) dengan menyembuhkan orang itu (kuasa ilahi). Tindakan-Nya adalah klaim keilahian yang tidak terbantahkan.

   Menerima Penyembahan: Seperti telah dibahas, setiap tokoh saleh dan malaikat dalam Alkitab selalu menolak penyembahan (Kisah Para Rasul 10:25-26; Wahyu 19:10). Fakta bahwa Yesus tidak pernah sekali pun menolak atau menegur orang yang menyembah-Nya adalah bukti terkuat bahwa Dia menganggap itu adalah hak-Nya. Seandainya Dia bukan Tuhan, maka seluruh kehidupan-Nya adalah sebuah penipuan.


2. Klaim Tidak Langsung yang Sangat Tegas:

Yesus membuat pernyataan yang, dalam konteks Yahudi monoteistik, tidak bisa diartikan lain selain klaim keilahian.

   "Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30): Reaksi orang-orang Yahudi membuktikan mereka paham betul maksudnya: "Engkau, seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yohanes 10:33). Mereka hendak melempari Dia dengan batu karena penghujatan.

   "Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yohanes 8:58): Di sini Yesus menggunakan frasa "I AM" (ἐγώ εἰμι - ego eimi), yang merupakan nama ilahi Yahweh dalam Perjanjian Lama (Keluaran 3:14). Lagi-lagi, orang Yahudi mengangkat batu untuk melempari-Nya karena mereka mengerti Dia sedang menyamakan Diri dengan Yahweh.


3. Nubuat yang Digenapi: Penyembahan bagi Sang Mesias yang adalah Tuhan

Perjanjian Lama menubuatkan bahwa Mesias yang akan datang bukan hanya seorang manusia, tetapi Dia akan disembah.

   Mazmur 45:7 (Ibrani 1:8-9): "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya..." Penulis Ibrani mengutip ini dan menerapkannya pada Yesus, menunjukkan bahwa Sang Mesias disebut "Allah" yang takhta-Nya kekal.

   Daniel 7:13-14: Sang "Anak Manusia" datang kepada "Yang Lanjut Usianya" (Bapa) dan kepada-Nya diberikan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, sehingga segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kata "mengabdi" di sini (bahasa Aram: pelach) adalah kata yang sama yang digunakan untuk ibadah dan penyembahan kepada Allah.


Membongkar Kesalahan Kategori dalam Pertanyaan "Mengklaim vs. Menerima"


Bagi yang masih berkeras pada pertanyaan ini, kita harus jernih melihat bahwa akar permasalahannya bukan pada Alkitab, tetapi pada cara berpikir (framework) yang keliru yang digunakan untuk menilai Yesus. Pertanyaan "Jika Dia Tuhan, mengapa tidak mengklaim penyembahan?" mengandung beberapa kesalahan logika dan kategori yang fatal.


1. Kesalahan Kategori: Memperlakukan Yesus Sebagai Manusia Biasa yang Harus "Audisi" untuk Menjadi Tuhan


Pertanyaan ini secara halus menempatkan Yesus dalam kategori "makhluk ciptaan" yang harus membuktikan diri dan menuntut haknya. Ini adalah kesalahan kategori yang paling mendasar.


   Analogi: Ini seperti bertanya, "Mengapa Singa tidak pernah mengklaim bahwa ia adalah Raja Hutan? Mengapa ia hanya menerima rasa takut dari hewan lain?"

       Jawabannya: Karena sifat dan wibawanya yang alami sudah membuktikannya. Ia tidak perlu mengumumkan klaim; kehadirannya sendiri sudah adalah klaim itu. Hewan lain tunduk bukan karena Singa mengatakannya, tetapi karena mereka mengenali apa adanya Singa tersebut.


   Penerapan pada Yesus: Yesus tidak berada dalam kategori "ciptaan yang ingin diakui sebagai Pencipta." Dia adalah Pencipta yang memasuki ciptaan-Nya. Otoritas dan keilahian-Nya adalah sifat inherent (melekat) pada diri-Nya, bukan gelar yang harus Dia perjuangkan atau klaim. Penerimaan-Nya terhadap penyembahan adalah pengakuan yang tenang dan pasti terhadap realitas siapa Dia adanya. Seorang raja sejati tidak perlu berteriak "Akulah rajamu!"; caranya berjalan, berbicara, dan bagaimana orang lain menghormatinyalah yang menunjukkan kerajaannya.


2. Kesalahan Proyeksi: Memaksakan Motivasi Manusia yang Egois kepada Allah


Pertanyaan ini memproyeksikan motivasi manusia yang berdosa—yaitu keinginan untuk dipuji dan mencari nama—ke dalam diri Kristus.


   Pikiran manusia: "Mengklaim" penyembahan berarti mencari kemuliaan untuk diri sendiri, terpisah dari orang lain. Itu adalah tindakan egois.

   Pikiran Kristus: Bagi Yesus, menerima penyembahan adalah tindakan yang paling taat dan memuliakan Bapa yang bisa dilakukan-Nya. Mengapa? Karena dengan menerima penyembahan, Dia mengakui kebenaran tentang diri-Nya sendiri—bahwa Dia memang adalah Allah yang layak disembah—dan kebenaran itu memuliakan Bapa yang mengutus-Nya. Menolak penyembahan justru akan berarti berbohong tentang hakikat diri-Nya sendiri dan, pada akhirnya, menyangkal kemuliaan Bapa yang telah mengaruniakan segala sesuatu kepada Anak.


3. Kesalahan Teologis: Memisahkan apa yang Tidak Bisa Dipisahkan dalam Tritunggal


Pertanyaan ini berasumsi bahwa jika Yesus "mengklaim" penyembahan, maka itu akan "mengurangi" kemuliaan Bapa. Ini mengandaikan bahwa Bapa dan Anak adalah dua allah yang terpisah dan bersaing.


   Ini adalah penolakan terhadap doktrin Tritunggal. Dalam Tritunggal, tidak ada kompetisi. Kemuliaan yang diterima oleh Anak adalah kemuliaan bagi Bapa, karena mereka satu dalam hakikat, esensi, dan kemuliaan. Bapa memuliakan Anak, dan Anak memuliakan Bapa (Yohanes 17:1, 5). Sebuah lampu tidak "mengklaim" cahayanya; cahaya itu secara alami dan tidak terpisahkan memancar dari lampu tersebut. Demikian juga, kemuliaan secara alami dan tidak terpisahkan memancar dari satu Allah yang esa dalam tiga Pribadi.


Kesimpulan Apologetika:


Mengatakan Yesus tidak pernah mengklaim keilahian karena Dia tidak mengucapkan kalimat tertentu adalah pembacaan Alkitab yang sangat sempit dan naif. Yesus menyatakan keilahian-Nya melalui:

   Tindakan-Nya (mengampuni dosa, menerima penyembahan).

   Pernyataan implisit-Nya ("Aku dan Bapa satu", "Aku telah ada").

   Penggenapan nubuat (disembah sebagai Allah dan Raja).


Penolakan untuk menyembah Yesus justru berarti tidak taat kepada rencana Bapa, yang telah menetapkan "supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!" (Filipi 2:10-11). Menyembah Yesus bukanlah pilihan; itu adalah perintah yang membawa kemuliaan bagi Bapa.


Jadi, pertanyaan "Mengapa Yesus tidak mengklaim penyembahan?" adalah pertanyaan yang salah (wrong question). Pertanyaannya sendiri sudah berdasarkan pada tiga kesalahan:

1.  Salah Kategori: Memperlakukan Sang Pencipta sebagai ciptaan.

2.  Salah Motivasi: Memproyeksikan keserakahan manusia kepada Kristus yang tanpa dosa.

3.  Salah Teologi: Memikirkan Bapa dan Anak sebagai dua entitas yang terpisah dan bersaing.


Pertanyaan yang benar adalah: "Mengapa Yesus, yang adalah Tuhan, dengan rendah hati dan taat menerima penyembahan yang menjadi hak-Nya, dan mengarahkan semua kemuliaan itu kembali kepada Bapa?"


Dan jawabannya adalah: Karena itulah hakikat Allah Tritunggal—sebuah komunitas kasih yang sempurna di mana setiap Pribadi memuliakan Pribadi lainnya, dan semua kemuliaan berputar secara kekal untuk kemuliaan mereka bersama. Yesus tidak perlu "mengklaim"; Dia hanya perlu menjadi diri-Nya sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup.



Klik atau Tap disini  untuk baca Artikel Lainnya


Tuhan Memberkati


11 September 2025

Mantiri AAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

At the Limit of Reason, On the Threshold of Worship

Knowing the Triune God in 3 Dimensions

1. Hermeneutika dan Eksegese Roma 11:36